Hanya karena takdir dari Allahlah yang mengijinkan aku menjadi
“penyelundup” dalam komunitas ini.
Sebuah komunitas yang dihadiri oleh para penghafal Al-Qur’an di tinggkat
Jawa Tengah. Ku katakana “penyelundup”, karena memang aku bukanlah peserta
maupun musyrifah (guru) di ajang perkumpulan para pecinta Al-Qur’an itu.
Saat itu salah satu peserta yang kebetulan adalah teman satu asrama di
wisma para mahasiswa sedang mengalami sakit. Suhu badannya sangat tinggi dan
kondisi tubuhnya yang ngedrop membuat ia harus istirahat total. Melihat kondisi
seperti itu, kami teman2 satu asrama sangat panik. Karena si akhwat ini menolak untuk dibawa ke dokter. Kondisi ini
semakin parah pas sehari sebelum acara di komunitas Al-Qur’an tersebut.
Seharian tidak ada makanan yang masuk. Kecuali air putih dan madu. Panasnya pun
tidak mau turun. Tubuhnya menggigil kedinginan. Walaupun sudah diselimuti
dengan selimut berlapis-lapis. Setiap
kali terjaga dari tidurnya ia hanya bisa menangis dan berdzikir.
Alhamdulillah, menjelang pagi hari panasnya mulai turun. Tapi kondisi
tubuhnya masih sangat lemas. Karena berjalan saja masih sempoyongan. Pagi itu
ia berkata padaku, “Dek, minta tolong anterin aku ke acara silaturahim MQ ya?”.
“Serius mbak?, ntar klo jatuh di jalan gimana”, kataku sambil sedikit bercanda.
“Mau atau nggak?, klo nggak mau, mbak nanti naik motor sendiri mau kesana”,
katanya sambil sedikit mendesak. “Klo nganter sih ndak ada masalah, tapi nanti
kalo ada kenapa2 dijalan gimana?”, kataku untuk mengurunkan niatnya yang cukup
nekat itu. Bagaimana tidak nekat, memboncengkan akhwat yang sedang sakit untuk
menempuh jarak kurang lebih 50 Km ke
tempat acara.
“Ya sudah, kalo kamu ndak mau, nanti saya berangkat sendiri”, katanya
sambil memasukkan barang bawaan ke tasnya.
“Iya deh mbak, aku mau nganterin”, jawabku pasrah.
Karena belum ada rencana sebelumnya untuk melakukan perjalanan lumayan
jauh. Maka aku mempercepat gerak langkah untuk mempersiapkan diri menuju ke
tempat acara. Karena acaranya dimulai jam 11.00 WIB. Mandi, sarapan, kemudian
packing dan siap untuk berangkat.
Dalam perjalanan, sesekali aku menengok ke belakang atau mengecek
balakangku dengan tangan kiri. Untuk memastikan si akhwat masih duduk di
boncengan. Atau bertanya, “mbak cape’ g? apa kita istirahat dulu?”. “g usah
dek, mbak masih kuat, terus aja”, jawabnya. Melihat wajahnya yang pucat pasi,
aku sangat khawatir kalau tiba-tiba ia pinsan. Alhamdulillah, dalam menempuh
perjalanan sekitar 3 jam itu, kita hanya berhenti satu kali untuk istirahat.
Dan tak ada kendala satupun di jalan. Sempat merasa deg-degan juga ketika
berangkat. Ternyata di dalam perjalanan kami melihat dengan mata kepala ada
seseorang yang tertabrak mobil pick up. Korban berada dibawah mobil, dan tepat
pas didepan ban depan mobil. Karena tidah tahan untuk melihatnya, kami putuskan
untuk berlalu begitu saja. Toh, sudah ada banyak orang yang mengurusinya.
Jam 11.00 siang tepat, kami tiba di tempat acara.
“Lho, tak pikir g’ sampai sini”, kata musyrifah (guru). “ayo. Silakan masuk,
istirahat dulu nggak papa”, lanjutnya.
“Iya, Umi. Mb Ida (nama samaran) ngeyel banget minta kesini. Saya takut
banget, kalo tiba-tiba pinsan di tengah jalan. Tapi Alhamdulillah, kita sampai
disini dengan selamat”, kataku.
Kami segera menghambur bersama peserta lainnya. Diantara yang lain, akulah
satu-satunya peserta yang tidak diundang.
Acara silaturahim MQ ini adalah acara persiapan untuk menyetorkan hafalan
sebanyak 5 Juz kapada para musyrifah. Di acara ini para peserta diberikan
suplemen ruhiyah dan juga diberikan materi tahsin untuk memperbaiki bacaan
Al-Qur’annya.
Saya mencoba
mengenali mereka satu persatu. Sebagian besar diantara mereka sudah berumah
tangga. Dan berada di usia yang sudah tidak muda lagi untuk menghafal. Akan tetapi
semangat mereka untuk menghafal al-Qur’an yang patut saya acungi jempol.
Salah satunya adalah bu Anni (nama samaran), beliau adalah salah satu
peserta yang berasal dari Magelang. Untuk mengikuti acara ini. Beliau harus
menempuh jarak 80 Km, hanya untuk mempersiakan hafalannya untuk disimak ke
musyrifah. Tidak hanya itu yang membuat saya keheranan. Beliau rela melepaskan
PNSnya untuk memperoleh hafalan yang sempurna yaitu 30 Juz. Disaat orang lain
berlomba-lomba bisa diterima menjadi PNS. Dan tak jarang diantara mereka yang
menyogok dari jalur belakang. Tapi bu Anni malah merelakan status PNSnya demi
meraih keniknatan syurgawi itu. Untuk menjadi keluaga Allah, baik didunia maupun
akherat.
Bagiku hal itu bukanlah keputusan yang mudah. Melihat keluarga Bu Anni
bukanlah keluarga yang bergelimang harta. Dengan keluarnya beliau keluar dari
status PNSnya, tentunya membuat keluarga ini semakin pas-pasan. Itu perhitunganku
sebagai manusia. Hal itu tidak menjadi masalah ataupun momok bagi bu Anni. Suaminya
mendukung 100 % keputusannya. Padahal penghasilannya juga pas-pasan.
Rasanya malu mendengarkan kisah mereka. Mereka yang mampu memperjuangkan
diri untuk menikmati hidangan syurgawi dengan perjuangan yang tidak hanya
sedikit. Dan mampu melewati tantangan meliputi kondisi kejiwaan dan lingkungan.
tentunya, untuk membersamai Al-Qur’an dan menanamkan ke dalam dada bukanlah
sebuah upaya yang mudah. Terutama bagi mereka yang mengafal di usia tidak muda
lagi. Ditambah lagi tuntutan mereka untuk menjalankan perannya di keluarga dan
masyarakat. Harus bisa memanajemen waktu dengan baik. Sampai-sampai
Rasulullahpun membatasi 2 kenikmatan yang boleh diirini, salah satunya yaitu
orang yang telah Allah berikan Al-Qur’an, lalu ia membacanya waktu malam dan
siang.
Kenikmatan sebesar Al-Qur’an memang banyak konsekuensinya. Konsekuensinya adalah
rela bersabar, meluangkan waktu mengosongkan hati serta pikiran dari kesibukan
duniawi, istiqomah untuk menambah hafalan dan mengulangnya, menjauhi
kemaksiatan. Selain itu juga harus diiringi dengan memperbanyak amal sholih dan
tentunya mencari komunitas orang-orang sholih.
Itulah pelajaran yang sangat berharga dan tak terduga ketika menjadi tamu
tak diundang di acara pecinta Al-Qur’an. Aku berharap Allah berikan kenikmatan
itu kepadaku dan kepada kita semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar