Jumat, 01 Maret 2013

Nikmatnya Hidangan Al-Qur'an



Hanya karena takdir dari Allahlah yang mengijinkan aku menjadi “penyelundup” dalam komunitas ini.
Sebuah komunitas yang dihadiri oleh para penghafal Al-Qur’an di tinggkat Jawa Tengah. Ku katakana “penyelundup”, karena memang aku bukanlah peserta maupun musyrifah (guru) di ajang perkumpulan para pecinta Al-Qur’an itu.
Saat itu salah satu peserta yang kebetulan adalah teman satu asrama di wisma para mahasiswa sedang mengalami sakit. Suhu badannya sangat tinggi dan kondisi tubuhnya yang ngedrop membuat ia harus istirahat total. Melihat kondisi seperti itu, kami teman2 satu asrama sangat panik. Karena si akhwat ini  menolak untuk dibawa ke dokter. Kondisi ini semakin parah pas sehari sebelum acara di komunitas Al-Qur’an tersebut. Seharian tidak ada makanan yang masuk. Kecuali air putih dan madu. Panasnya pun tidak mau turun. Tubuhnya menggigil kedinginan. Walaupun sudah diselimuti dengan selimut berlapis-lapis.  Setiap kali terjaga dari tidurnya ia hanya bisa menangis dan berdzikir.
Alhamdulillah, menjelang pagi hari panasnya mulai turun. Tapi kondisi tubuhnya masih sangat lemas. Karena berjalan saja masih sempoyongan. Pagi itu ia berkata padaku, “Dek, minta tolong anterin aku ke acara silaturahim MQ ya?”. “Serius mbak?, ntar klo jatuh di jalan gimana”, kataku sambil sedikit bercanda. “Mau atau nggak?, klo nggak mau, mbak nanti naik motor sendiri mau kesana”, katanya sambil sedikit mendesak. “Klo nganter sih ndak ada masalah, tapi nanti kalo ada kenapa2 dijalan gimana?”, kataku untuk mengurunkan niatnya yang cukup nekat itu. Bagaimana tidak nekat, memboncengkan akhwat yang sedang sakit untuk menempuh jarak  kurang lebih 50 Km ke tempat acara.
“Ya sudah, kalo kamu ndak mau, nanti saya berangkat sendiri”, katanya sambil memasukkan barang bawaan ke tasnya.
“Iya deh mbak, aku mau nganterin”, jawabku pasrah.
Karena belum ada rencana sebelumnya untuk melakukan perjalanan lumayan jauh. Maka aku mempercepat gerak langkah untuk mempersiapkan diri menuju ke tempat acara. Karena acaranya dimulai jam 11.00 WIB. Mandi, sarapan, kemudian packing dan siap untuk berangkat.
Dalam perjalanan, sesekali aku menengok ke belakang atau mengecek balakangku dengan tangan kiri. Untuk memastikan si akhwat masih duduk di boncengan. Atau bertanya, “mbak cape’ g? apa kita istirahat dulu?”. “g usah dek, mbak masih kuat, terus aja”, jawabnya. Melihat wajahnya yang pucat pasi, aku sangat khawatir kalau tiba-tiba ia pinsan. Alhamdulillah, dalam menempuh perjalanan sekitar 3 jam itu, kita hanya berhenti satu kali untuk istirahat. Dan tak ada kendala satupun di jalan. Sempat merasa deg-degan juga ketika berangkat. Ternyata di dalam perjalanan kami melihat dengan mata kepala ada seseorang yang tertabrak mobil pick up. Korban berada dibawah mobil, dan tepat pas didepan ban depan mobil. Karena tidah tahan untuk melihatnya, kami putuskan untuk berlalu begitu saja. Toh, sudah ada banyak orang yang mengurusinya.
Jam 11.00 siang tepat, kami tiba di tempat acara.
“Lho, tak pikir g’ sampai sini”, kata musyrifah (guru). “ayo. Silakan masuk, istirahat dulu nggak papa”, lanjutnya.
“Iya, Umi. Mb Ida (nama samaran) ngeyel banget minta kesini. Saya takut banget, kalo tiba-tiba pinsan di tengah jalan. Tapi Alhamdulillah, kita sampai disini dengan selamat”, kataku.
Kami segera menghambur bersama peserta lainnya. Diantara yang lain, akulah satu-satunya peserta yang tidak diundang.
Acara silaturahim MQ ini adalah acara persiapan untuk menyetorkan hafalan sebanyak 5 Juz kapada para musyrifah. Di acara ini para peserta diberikan suplemen ruhiyah dan juga diberikan materi tahsin untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’annya.
Saya mencoba mengenali mereka satu persatu. Sebagian besar diantara mereka sudah berumah tangga. Dan berada di usia yang sudah tidak muda lagi untuk menghafal. Akan tetapi semangat mereka untuk menghafal al-Qur’an yang patut saya acungi jempol.
Salah satunya adalah bu Anni (nama samaran), beliau adalah salah satu peserta yang berasal dari Magelang. Untuk mengikuti acara ini. Beliau harus menempuh jarak 80 Km, hanya untuk mempersiakan hafalannya untuk disimak ke musyrifah. Tidak hanya itu yang membuat saya keheranan. Beliau rela melepaskan PNSnya untuk memperoleh hafalan yang sempurna yaitu 30 Juz. Disaat orang lain berlomba-lomba bisa diterima menjadi PNS. Dan tak jarang diantara mereka yang menyogok dari jalur belakang. Tapi bu Anni malah merelakan status PNSnya demi meraih keniknatan syurgawi itu. Untuk menjadi keluaga Allah, baik didunia maupun akherat.
Bagiku hal itu bukanlah keputusan yang mudah. Melihat keluarga Bu Anni bukanlah keluarga yang bergelimang harta. Dengan keluarnya beliau keluar dari status PNSnya, tentunya membuat keluarga ini semakin pas-pasan. Itu perhitunganku sebagai manusia. Hal itu tidak menjadi masalah ataupun momok bagi bu Anni. Suaminya mendukung 100 % keputusannya. Padahal penghasilannya juga pas-pasan.
Rasanya malu mendengarkan kisah mereka. Mereka yang mampu memperjuangkan diri untuk menikmati hidangan syurgawi dengan perjuangan yang tidak hanya sedikit. Dan mampu melewati tantangan meliputi kondisi kejiwaan dan lingkungan. tentunya, untuk membersamai Al-Qur’an dan menanamkan ke dalam dada bukanlah sebuah upaya yang mudah. Terutama bagi mereka yang mengafal di usia tidak muda lagi. Ditambah lagi tuntutan mereka untuk menjalankan perannya di keluarga dan masyarakat. Harus bisa memanajemen waktu dengan baik. Sampai-sampai Rasulullahpun membatasi 2 kenikmatan yang boleh diirini, salah satunya yaitu orang yang telah Allah berikan Al-Qur’an, lalu ia membacanya waktu malam dan siang.
Kenikmatan sebesar Al-Qur’an memang banyak konsekuensinya. Konsekuensinya adalah rela bersabar, meluangkan waktu mengosongkan hati serta pikiran dari kesibukan duniawi, istiqomah untuk menambah hafalan dan mengulangnya, menjauhi kemaksiatan. Selain itu juga harus diiringi dengan memperbanyak amal sholih dan tentunya mencari komunitas orang-orang sholih.
Itulah pelajaran yang sangat berharga dan tak terduga ketika menjadi tamu tak diundang di acara pecinta Al-Qur’an. Aku berharap Allah berikan kenikmatan itu kepadaku dan kepada kita semua.